Jangan Tergesa-Gesa Puasa Syawal - Ustadz Aris Munandar
![]() |
Kabeldakwah.com |
Jangan Tergesa-Gesa Puasa Syawal
«مصنف
عبد الرزاق» (5/ 54 ط التأصيل الثانية):
[8170] قال
عبد الرزاق: وَسَأَلْتُ مَعْمَرًا عَنْ صِيَامِ السِّتِّ الَّتِي بَعْدَ يَوْمِ
الْفِطْرِ، وَقَالُوا لَهُ: تُصامُ بَعْدَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ؟
Abdurrazzaq ash-‘Shan’ani bertanya kepada gurunya Ma’mar bin Rasyid (seorang tabi’ tabiin W 153 H) mengenai memulai puasa 6 hari bulan Syawal pada tanggal 2 Syawal. Di samping Abdurrazzaq ash-Shan’ani ada banyak orang yang bertanya kepada Ma’mar tentang boleh tidaknya puasa pada tanggal 2 Syawal.
فَقَالَ: مَعَاذَ
اللهِ! إِنَّمَا هِيَ أَيَّامُ عِيدٍ، وَأَكْلٍ وَشُرْبٍ، وَلَكِنْ تُصَامُ
ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ قَبْلَ أَيَّامِ الْغُرِّ أَوْ بَعْدَهَا، وَأَيَّامُ الْغُرِّ
ثَلَاثَةَ عَشَرَ، وَأَرْبَعَةَ عَشَرَ، وَخَمْسَةَ عَشَرَ.
Jawaban Ma’mar bin
Rasyid, “Naudzubillah min dzalik. Itu masih suasana hari raya, hari-hari makan
dan minum. Puasa Syawal itu dikerjakan tiga hari sebelum ayyāmul bīdh atau
setelah ayyāmul bīdh. Ayyāmul bīdh itu
tgl 13, 14 dan 15”.
وَسَأَلْنَا عَبْدَ
الرَّزَّاقِ: عَمَّنْ يَصُومُ يَوْمَ الثَّانِي؟ فَكَرِهَ ذَلِكَ، وَأَبَاهُ
إِبَاءً شَدِيدًا.
Ditanyakan kepada Abdurazzaq ash-Shan’ani
tentang orang yang berpuasa Syawal pada tanggal 2 Syawal. Beliau tidak menyukai hal
tersebut dan menolak hal tersebut dengan penolakan yang keras. Abdurrazzaq ash-Shan’ani, al-Mushannaf (Kairo:
Dar at-Ta’shil, 2013), 5/54.
Meski hari raya Iedul Fitri itu dalam syariat
hanya satu hari yaitu tgl 1 Syawal namun sejak era salaf suasana hari raya
iedul fitri itu masih terasa pada hari-hari selanjutnya. Oleh karena itu Ma’mar
menyebut tgl 2 Syawal dan seterusnya dengan sebutan ‘ayyāmul ied’, hari-hari
yang masih diliputi suasana hari raya.
Sejak masa salaf,
hari-hari yang masih diliputi oleh suasana hari raya masih disebut dengan
hari-hari makan dan minum.
Di Indonesia hari-hari
yang masih diliputi suasana hari raya itu masih diisi dengan kegiatan
berkunjung ke rumah famili, kawan dan orang-orang yang dihormati. Kunjungan ini
tentu disertai kegiatan makan dan minum hidangan yang disajikan oleh tuan
rumah.
Oleh karena itu pandangan fikih Ma’mar bin
Rasyid yang diikuti oleh muridnya Abdurrazzaq ash-Shan’ani (guru dari Imam
Ahmad bin Hanbal) adalah pendapat yang tepat dan bagus. Beliau berdua melarang
terburu-buru puasa Syawal semisal memulai puasa Syawal pada tanggal 2 Syawal.
Ma’mar bin Rasyid
menyarankan agar memulai puasa Syawwal pada tanggal 10 Syawal. Artinya
hari-hari yang masih diliputi suasana hari raya Iedul Fitri itu sampai sekitar
tanggal 9 Syawal.
Dalam kajian hukum Islam
kontemporer, pandangan fikih yang dianut oleh Ma’mar bin Rasyid dan Abdurrazzaq
ash-Shan’ani ini memadukan antara nalar bayani dan nalar irfani.
Nalar bayani yang
bertumpu pada teks syariat berisi anjuran puasa Syawal dan anjuran segera dalam
melakukan kebaikan. Nalar irfani yang bertumpu pada perasaan tidak nyaman dalam
suasana kunjungan manakala ada yang tidak ikut menikmati hidangan hari raya karena
sedang menjalani ibadah puasa.
Ditulis oleh: Ust. Dr. Aris Munandar
Posting Komentar untuk "Jangan Tergesa-Gesa Puasa Syawal - Ustadz Aris Munandar"
Sebelumnya kami ucapkan Jazakumullahu Khairan atas tegur sapa antum semua di web Kabeldakwah.com ini.
==> Komentar Anda akan ditanggapi oleh Admin saat Aktif.